Sebelum kita membahas topik dari judul yang ada diatas yuk kita ketahui dulu apa itu revolusi industri Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan menyebar ke seluruh dunia. Nah kita sudah tau dong sejarah nya yuk kita bahas tentan revolusi industri 4.0 khusus nya di bidang pariwisata Menpar meyakini, datangnya Era Creative atau Cultural Industry dalam revolusi industri 4.0 adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Karena cepat atau lambat akan menyisir hampir di seluruh sektor, tak terkecuali pariwisata.

“Saat ini pelancong, khususnya millennials 70 persen sudah menikmati manfaat era digital. Mereka melihat destinasi, pesan, dan bayar sudah dalam satu aplikasi di ponsel pintar dengan cepat, murah dan mudah,” kata Menpar Arief Yahya Terkait hal itu, Menpar mengakui telah menyiapkan formula khusus untuk pemberdayaan SDM Indonesia untuk sektor pariwisata.
“Kami akan menyiapkan SDM pariwisata yang siap menghadapi era Digital Tourism 4.0. Proses ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 4 tahun silam dari tradisi analog konvensional menuju era digital di semua lini,
Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Generasi Milenial menjadi paling dominan dalam penggunaan internet. Internet sangat bermanfaat mengenalkan potensi wisata daerah kepada semua orang baik dalam skala nasional maupun internasional Pun melihat generasi milenial yang lebih suka menghabiskan waktu dan materi untuk piknik. Ini tentu akan sangat baik ketika pemanfaatan internet dengan suka piknik dikolaborasikan dengan pengenalan tempat piknik kedalam dunia digital. Dan dua hal ini dimiliki oleh generasi milenial.
Ada pun kegiatan yang dilakukan oleh kemenpar yaitu Rakornas Pariwisata I Tahun 2019 diselenggarakan dengan tujuan penguatan SDM pariwisata agar dapat memenangkan kompetisi global di era industri 4.0 ini mengusung tema besar Wonderful Indonesia Digital Tourism (WIDT) 4.0 Transforming Tourism Human Resources to Win The Global Competition in The Industry 4.0 Era.
Acara yang diikuti 500 peserta dari berbagai kalangan seperti akademisi, industri pariwisata, pemerintah, komunitas, dan media ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Senior Manager Deloitte Samrat Bosye, Rektor Universitas Bina Nusantara Harjanto Prabowo, dan para ceo dari beberapa aplikasi travel dan toko online

Lalu bagaimana dengan bali?
Menurut hasil diskusi pada bulan januari kemarin Perguruan Tsinghua SEA dan Yayasan Unity in Diversity (UID)baru menggelar forum diskusi “Industry Revolution 4.0: Shape Your Future with Artificial Intelligence and Big Data” di UID Creative Campus, Bali.
Di acara tersebut, hadir beragam narasumber dari bidang teknologi. Bali sendiri disebut mampu mendongkrak lagi potensi wisatanya dengan merangkul teknologi digital. Dalam acara tersebut penyedia layanan cloud yaitu Alibaba Cloud juga turut menjadi pengisi acara.
Mengingat Bali memiliki banyak desa wisata maka pemanfaatan teknologi big data meliputi pendataan potensi desa wisata yang ada di Bali dan dikolaborasikan dengan beragam data terkait wisatawan dan pengunjung bisa memberikan pandangan yang sangat luas.
Alibaba Cloud memiliki program bernama Champion Global Accerlerator, yang di dalamnya terdapat lebih dari 300 perusahaan dan kalangan profesional. Mereka mengikuti program pelatihan dan pengembangan bisnis berbasis dukungan teknologi Alibaba Cloud.
Mengingat Bali memiliki banyak desa wisata maka pemanfaatan teknologi big data meliputi pendataan potensi desa wisata yang ada di Bali dan dikolaborasikan dengan beragam data terkait wisatawan dan pengunjung bisa memberikan pandangan yang sangat luas.

Saya ingin menyarankan pemerintah untuk membuat policy mengenai sebuah inovasi pariwisata 4.0. Pertama, inovasi dalam konteks pembangunan berkelanjutan pariwisata harus melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan pemangku kepentingan. Kedua, nilai inovasi harus memiliki nilai komersial agar dapat mendukung potensi industri pariwisata dan pelaku bisnis serta menarik generasi milenial, tetapi dalam artian tidak hanya memanfaatkan inovasi, tetapi mengantisipasi potensi dampak inovasi tersebut. Ketiga memaksimalkan potensi akademisi dan profesional kalangan milenial dalam proses nya, tidak hanya untuk sekedar menghasilkan inovasi baru, tetapi memaksimalkan teknologi agar memastikan inovasi tepat sasaran ke generasi milenial serta tidak berakibat negatif bagi pembangunan berkelanjutan dan masyarakat lokal sekitar.

